7 Alasan Kuat Kenapa Anda Perlu Mulai Pikirkan Resign

Redaksi Daerah - Senin, 12 Januari 2026 09:25 WIB
7 Alasan Kuat untuk Mulai Mempertimbangkan Resign

JAKARTA – Mengajukan resign sering kali terasa seperti keputusan besar, apalagi ada banyak pertimbangan di baliknya. Bisa jadi kamu ingin mencoba bidang baru, mencari tantangan yang berbeda, atau merasa peran yang kamu jalani sekarang sudah tidak lagi memuaskan.

Resign juga patut dipertimbangkan ketika kamu mulai kehilangan motivasi menjalani pekerjaan sehari-hari, merasa terlalu terbebani hingga kelelahan, atau merasa kariermu stagnan dan ingin melangkah ke posisi yang lebih berkembang.

Bukan hal yang aneh jika seseorang ingin berhenti dari pekerjaannya. Bahkan, lebih banyak orang yang berhenti dari pekerjaannya untuk mencari peluang yang lebih baik dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

Memutuskan untuk resign memang tidak mudah, karena berkaitan dengan rasa aman, masa depan, dan kekhawatiran terhadap ketidakpastian, terlebih di tengah kondisi ekonomi seperti saat ini. Namun, bertahan di lingkungan yang terus menguras mental dan emosi bukan keputusan yang bijaksana.

Mengenali tanda-tanda bahwa pekerjaanmu sudah tidak sehat lagi merupakan bentuk perhatian dan kepedulian terhadap diri sendiri. Ini adalah beberapa tanda bahwa mungkin sudah saatnya untuk mengundurkan diri dari pekerjaanmu dan mendapatkan pekerjaan yang lebih baik yang lebih efektif memenuhi kebutuhanmu.

Tanda Kamu Sudah Saatnya Resign dari Pekerjaan

Berikut beberapa tanda sudah saatnya kamu resign dari perusahaan:

1. Tidak Ada Lagi Ruang untuk Berkembang

Jika kamu merasa telah mencapai batas kemampuan di perusahaan saat ini, mungkin sudah saatnya mencari pekerjaan baru yang menawarkan lebih banyak kesempatan untuk naik jabatan dan berkembang. Saat kamu merasa telah sepenuhnya memanfaatkan kemampuan dan bakatmu dalam satu posisi, itulah waktunya untuk melangkah maju.

Dilansir dari coursera.org, selain sulitnya naik jabatan, kurangnya potensi pertumbuhan juga bisa terlihat dari minimnya kesempatan untuk mengembangkan keterampilan.

Jika perusahaanmu tidak mendorong karyawan untuk memperluas kemampuan mereka, pertimbangkan untuk mencari perusahaan lain yang memungkinkanmu mengikuti konferensi, memperoleh sertifikasi, dan memperluas pendidikan demi keuntunganmu sekaligus perusahaan.

2. Merasa Tidak Dihargai

Saat kamu bekerja keras, mendapatkan pengakuan atas usaha tersebut sangat membangkitkan semangat. Sedikit apresiasi sangat berarti. Banyak orang mencari rasa dihargai atau merasa berarti dalam pekerjaan mereka, karena hal itu membuat mereka merasa pekerjaan mereka berdampak.

Beberapa contoh di mana kamu mungkin merasa tidak dihargai termasuk gaji yang tidak sepadan (merasa tidak mendapatkan penghasilan sesuai kemampuan), kurangnya apresiasi (jarang mendapat pujian atau pengakuan verbal atas pekerjaan yang baik), atau kritik berlebihan (sering menerima kritik keras atau negatif daripada masukan yang membangun).

Bicarakan langsung dengan atasan jika kamu merasa tidak dihargai. Jika perasaanmu diakui tetapi tidak ada perubahan, pertimbangkan untuk mengajukan surat pengunduran diri. Hal ini bisa membuka peluang perubahan, baik di perusahaan saat ini maupun di tempat baru.

3. Kehilangan Motivasi

Jika kamu merasa kurang termotivasi untuk pergi bekerja setiap hari atau kurang produktif setelah tiba di tempat kerja, mungkin sudah saatnya untuk pindah. Beberapa penyebab kurangnya motivasi bisa berupa kesulitan menjalin hubungan dengan rekan kerja, kelelahan, atau ketidakseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.

Jika rasa tidak termotivasi terjadi secara terus-menerus, hal ini bisa menjadi tanda jadwal kerjamu terlalu berat atau perusahaan saat ini bukan tempat yang tepat untukmu. Terkadang, kurangnya motivasi bukan disebabkan oleh satu hal saja, tetapi oleh berbagai faktor yang membuat sulit untuk fokus dan meluangkan waktu serta usaha untuk menyelesaikan tugas sehari-hari.

4. Kelelahan Mental dan Fisik yang Berkepanjangan

Kelelahan mental membuat tubuh bisa mulai sering sakit hingga pola tidur terganggu. (Photo by Andrea Piacquadio)

Rasa lelah setelah bekerja adalah hal wajar, tetapi kelelahan yang terus-menerus meski sudah beristirahat patut diwaspadai. Tubuh bisa mulai sering sakit, pola tidur terganggu, pikiran terasa penuh, dan emosi menjadi lebih mudah tersinggung.

Kamu mungkin merasakan kecemasan tanpa alasan jelas, cepat marah, atau bahkan kekosongan. Hal ini menandakan bahwa beban kerja yang kamu tanggung sudah melebihi kemampuan tubuh dan mental untuk beradaptasi secara sehat.

5. Pekerjaan Mulai Mengganggu Kehidupan Pribadi

Jika pekerjaan mulai menggerus waktu untuk keluarga, teman, dan dirimu sendiri, itu merupakan tanda yang sebaiknya tidak boleh diabaikan. Kamu mungkin kesulitan menikmati waktu di luar jam kerja karena pikiran selalu dipenuhi urusan kantor.

Pekerjaan menjadi pusat perhatian, sementara kebutuhan emosional dan sosialmu terabaikan. Ketidakseimbangan ini, jika berlangsung lama, dapat menimbulkan stres kronis, kelelahan emosional, dan perasaan tidak bahagia yang berkepanjangan.

6. Lingkungan Kerja Tidak Sehat

Lingkungan kerja yang toxic biasanya ditandai dengan komunikasi yang kasar, budaya saling menjatuhkan, minimnya apresiasi, dan tidak adanya rasa aman secara emosional. Jika kamu sering merasa diremehkan, diabaikan, dimanipulasi, atau tidak dihargai atas kerja kerasmu, itu bukan kondisi yang pantas dianggap wajar.

Lingkungan seperti ini bisa perlahan merusak rasa percaya diri, membuatmu merasa kurang, dan berdampak buruk pada kesehatan mental secara signifikan.

7. Tingginya Tingkat Keluar-Masuk Karyawan

Dalam beberapa kasus, tingkat pergantian karyawan yang tinggi merupakan indikator kesehatan perusahaan dan bisa menjadi pertanda bahwa ada sesuatu yang tidak beres di internal perusahaan. Melihat orang datang dan pergi bisa mengindikasikan bahwa mengundurkan diri dari pekerjaan ini adalah pilihan terbaik untukmu.

Tingkat pergantian karyawan yang tinggi juga dapat menandakan bahwa budaya perusahaan tidak seperti seharusnya. Atau mungkin perusahaan sedang menuju masa-masa sulit, dan karyawan dipaksa bekerja melebihi kapasitas, yang menyebabkan perasaan stres dan ketidakpuasan kerja. Apa pun alasannya, tingkat pergantian karyawan yang tinggi seharusnya menjadi sinyal untuk dikhawatirkan.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 11 Jan 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 12 Jan 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS