UMKM
Jumat, 23 Januari 2026 16:37 WIB
Penulis:Redaksi Daerah
Editor:Redaksi Daerah

JAKARTA - Memasuki pekan ketiga tahun 2026, banyak individu maupun keluarga mulai merancang tujuan keuangan jangka panjang. Untuk merealisasikannya, diperlukan strategi pengelolaan keuangan yang disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan masing-masing.
Sebagai gambaran, resolusi keuangan mencakup perencanaan menyeluruh terkait pengaturan anggaran, pengendalian belanja, penetapan sasaran menabung, investasi, hingga kesiapan menghadapi risiko tak terduga. Tanpa perencanaan yang matang, kebiasaan konsumtif dapat menghambat tercapainya tujuan finansial penting, seperti kepemilikan rumah, pembiayaan pendidikan anak, hingga persiapan masa pensiun yang nyaman.
Melansir dari Monarch, Senin, 19 Januari 2026, data Pew Research Center mencatat sekitar 61% dari resolusi berita yang dibuat pada tahun 2024, berpusat pada sektor keuangan. Resolusi menghasilkan uang dapat memberi Anda tujuan yang membuat kemajuan stabil dalam jangka panjang.
Menurut survei Bankrate, hampir tiga dari empat orang Amerika memiliki penyesalan finansial akibat tidak menabung untuk masa pensiun, terlalu banyak hutang, dan lainnya. Berdasarkan survei tersebut, resolusi keuangan dapat membantu menghindari rasa penyesalan dini sekaligus meningkatkan kesejahteraan finansial.
Langkah awal yang direkomendasikan para pakar adalah melakukan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi keuangan di akhir tahun sebelumnya. Evaluasi ini mencakup identifikasi total pendapatan, perincian semua pengeluaran rutin maupun tidak terduga, serta pemetaan utang yang masih berjalan.
Data ini membantu untuk menyusun gambaran realistis tentang kemampuan finansial individu atau keluarga. Evaluasi ini bukan sekadar melihat angka tabungan, tetapi juga pola pengeluaran yang selama ini berjalan. Hasil evaluasi ini menjadi dasar untuk menentukan target yang realistis dan terukur di 2026.
Setelah mengetahui kondisi finansial terkini, langkah berikutnya adalah menetapkan tujuan yang spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan memiliki batas waktu. Adapun contoh target spesifik yang dapat dilakukan adalah menabung Rp30 juta dalam 12 bulan untuk dana darurat, melunasi sisa kredit kendaraan dalam enam bulan, dan mengalokasikan 10% dari pendapatan untuk investasi reksa dana.
Anggaran merupakan kerangka untuk mengontrol arus kas masuk dan keluar. Salah satu metode yang banyak direkomendasikan adalah metode 50/30/20. 50% dari pendapatan untuk kebutuhan pokok, 30% untuk kebutuhan gaya hidup, serta 20% untuk tabungan dan investasi.
Metode ini membantu menjaga keseimbangan antara kebutuhan saat ini dan rencana masa depan. Seoranh peneliti menyebut bahwa disiplin pada anggaran bulanan mampu menekan pengeluaran impulsif yang sering menjadi penghambat pencapaian tujuan finansial jangka panjang.
Dana darurat adalah fondasi utama yang selalu muncul dalam panduan resolusi keuangan. Dana ini berfungsi sebagai penyangga ketika menghadapi situasi tak terduga seperti biaya kesehatan, kehilangan pekerjaan, atau kebutuhan mendadak lainnya.
Para perencana keuangan merekomendasikan dana darurat senilai 3–6 kali pengeluaran bulanan. Misalnya, jika total pengeluaran bulanan Anda Rp5 juta, maka idealnya Anda memiliki dana darurat antara Rp15 juta hingga Rp30 juta yang tersimpan dalam tabungan, seperti rekening tabungan berjangka atau deposito.
Salah satu kebiasaan yang sering direkomendasikan adalah mencatat setiap pengeluaran harian. Catatan tersebut, mampu memberi gambaran nyata tentang aliran kas, sehingga setiap pengeluaran dapat dievaluasi secara periodik.
Melansir dari Forbes, Senin, 19 Januari 2026, orang-orang yang rutin mencatat pengeluaran cenderung lebih sadar finansial, lebih mudah menyesuaikan anggaran, dan lebih cepat mendeteksi kebocoran pengeluaran yang tidak produktif.
Selain menabung, strategi resolusi keuangan yang matang juga mencakup investasi yang sesuai profil risiko. Instrumen investasi yang sering disarankan adalah reksa dana, saham, maupun obligasi.
Studi World Bank menunjukkan bahwa alokasi dana ke instrumen investasi berjangka panjang membantu melindungi nilai aset dari efek inflasi dan memberikan peluang pertumbuhan kekayaan lebih tinggi dibandingkan hanya menabung.
Resolusi keuangan bukanlah dokumen statis yang dibuat sekali lalu dilupakan. Dalam hal ini, banyak ahli menyarankan agar setiap individu atau keluarga melakukan evaluasi secara berkala. Evaluasi ini membantu mengukur progres terhadap target, serta memberi kesempatan untuk melakukan adaptasi apabila kondisi ekonomi berubah.
Dalam laporan OECD Financial Literacy, dijelaskan bahwa kemampuan mengatur keuangan adalah keterampilan penting yang perlu diterapkan sejak remaja. Semakin besar tantangan ekonomi, maka konsistensi dalam resolusi keuangan semakin menjadi esensial.
Kebiasaan yang baik dalam keuangan keluarga, seperti menabung rutin, investasi, dan pengendalian utang, diyakini mampu membantu masyarakat Indonesia menghadapi gejolak ekonomi dan memaksimalkan kapasitas finansial individu.
Dengan perencanaan yang matang dan konsisten, resolusi keuangan tidak hanya menjadi wacana awal tahun, tetapi juga menjadi fondasi kebiasaan finansial yang sehat untuk masa depan.
Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Maharani Dwi Puspita Sari pada 20 Jan 2026
Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 23 Jan 2026
Bagikan