Makna Pohon Angpau Imlek yang Jarang Diketahui

Senin, 09 Februari 2026 18:21 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Menguak Makna Pohon Angpau Imlek
Menguak Makna Pohon Angpau Imlek

JAKARTA – Tahun Baru Imlek, yang juga dikenal sebagai Tahun Baru China atau Festival Musim Semi, merupakan salah satu perayaan terbesar yang dirayakan di berbagai belahan dunia. Istilah Imlek sendiri merujuk pada perayaan datangnya musim semi yang, berdasarkan kalender lunar, jatuh pada bulan baru kedua setelah titik balik matahari musim dingin.

Dalam menyambut perayaan ini, masyarakat Tionghoa menjalankan beragam tradisi khas. Salah satu yang paling dikenal adalah keberadaan pohon angpau Imlek, yang menjadi simbol sekaligus elemen ikonik dalam memeriahkan suasana perayaan.

Setiap Tahun Baru Imlek, anak-anak biasanya diberi amplop merah berisi uang keberuntungan, yang dimaksudkan untuk melambangkan harapan baik untuk tahun yang akan datang.

Biasanya, hadiah ini diberikan kepada anak-anak atau kerabat muda yang belum menikah selama Tahun Baru Imlek. Sementara yang memberi angpau adalah mereka yang sudah menikah atau orang yang lebih tua seperti tetua dalam keluarga sebagai tanda keberuntungan dan berkah untuk tahun mendatang.

Pohon angpau Imlek tidak hanya ornamen dalam perayaan Tahun Baru China, tetapi juga mengandung nilai dan filosofi yang mendalam. Umumnya, pohon ini dipajang selama 14 hari rangkaian perayaan Imlek. Adanya pohon angkau ini melambangkan kekayaan dan keberuntungan.

Di samping itu, pohon ini juga sebagai sarana pembelajaran di mana dalam hidup sudah harus saling peduli dan berbagi terhadap sesama dan saling membantu satu sama lain. Sementara, pohon yang digunakan biasanya adalah pohon Meihua atau pohon bunga plum.

Meihua yang juga dikenal sebagai bunga plum merupakan bunga nasional dari China yang secara resmi ditetapkan pada 21 Juli 1964. Bunga ini menjadi simbol ketekunan dan kekuatan dalam menghadapi berbagai rintangan. Hal ini karena tetap tumbuh dan mekar meskipun berada di tengah kondisi musim dingin yang ekstrim.

Selain itu, Meihua sering dianggap sebagai lambang musim dingin sekaligus pertanda datangnya musim semi. Bunga ini juga merepresentasikan keindahan, kemurnian, serta sifat kehidupan yang sementara. Memasuki abad ke-20, Meihua kerap digunakan sebagai metafora dalam semangat perjuangan dan gerakan revolusioner.

Di seluruh Asia, sudah menjadi kebiasaan untuk memiliki Meihua di rumah selama Tahun Baru Imlek karena bunga ini melambangkan pergantian musim dan menginspirasi untuk membayangkan kemungkinan kehidupan yang baru.

Perpaduan bunga berwarna merah muda dan angpau-angpau merah membuat pohon ini mampu menghadirkan suasana yang semarak dan penuh kegembiraan dalam menyambut awal tahun baru.

Terkait nominal angpau dalam pohon Imlek, besarannya pada umumnya tidak memiliki aturan khusus. Namun, angka 4 sebaiknya dihindari karena dalam budaya Tionghoa angka tersebut sering dikaitkan dengan makna kurang baik atau kematian.

Sebaliknya, angka 8 dipandang sebagai lambang keberuntungan dan kebahagiaan. Meski begitu, penentuan nilai angpau sepenuhnya disesuaikan dengan kehendak dan kemampuan pemberinya.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 09 Feb 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 09 Feb 2026