UpScrolled, Alternatif TikTok Karya Pengusaha Palestina

Jumat, 30 Januari 2026 17:58 WIB

Penulis:Redaksi Daerah

Editor:Redaksi Daerah

Coba UpScrolled, Alternatif TikTok Karya Pengusaha Palestina
Coba UpScrolled, Alternatif TikTok Karya Pengusaha Palestina

JAKARTA – UppScrolled, aplikasi media sosial besutan pengusaha Palestina–Yordania–Australia, Issam Hijazi, tengah mengalami peningkatan popularitas di sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat.

Lonjakan ini terjadi seiring banyaknya pengguna yang mulai beralih dan mencari alternatif TikTok, setelah platform tersebut resmi diakuisisi oleh investor dan perusahaan yang didukung Amerika Serikat pada pekan lalu.

Setelah Larry Ellison, pemilik Oracle yang dikenal sebagai pendukung kuat Israel dan sahabat Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu, mengambil sebagian saham pada entitas TikTok yang berbasis di AS, sejumlah pengguna media sosial menyuarakan kekhawatiran terkait potensi penyensoran terhadap unggahan pro-Palestina di aplikasi tersebut.

Dilansir dari Al Jazeera, sementara, operasional TikTok secara global tetap berada di bawah kendali pemilik asal China, ByteDance.

Baca Juga: Penelitian: TikTok Merekomendasikan Pornografi kepada Anak-Anak

Pada Rabu, 28 Januari 2026, TikTok secara permanen memblokir jurnalis peraih Emmy Award sekaligus kontributor Al Jazeera asal Gaza, Bisan Owda. Keputusan ini memicu kemarahan luas serta seruan boikot dari para pendukungnya. Aplikasi tersebut juga dituding melakukan penyensoran konten terkait meningkatnya kekerasan yang melibatkan ICE di Amerika Serikat.

UpScrolled, yang baru didirikan sekitar satu tahun lalu, secara mengejutkan melonjak menjadi aplikasi paling banyak diunduh di AS pada minggu ini. Hingga Rabu, aplikasi tersebut menempati peringkat pertama kategori “jejaring sosial” di App Store Apple. UpScrolled juga termasuk dalam jajaran aplikasi teratas yang diunduh oleh pengguna Apple di Inggris, Kanada, dan Australia.

Sementara, aplikasi tersebut terus menarik ribuan unduhan baru seiring banyaknya pengguna TikTok yang merasa kecewa dan beralih ke platform ini, tertarik oleh janji teknologi yang transparan. Lonjakan pengguna ini bahkan sempat membuat server UpScrolled tumbang sementara pada akhir pekan, menurut laporan pihak UpScrolled.

Apa itu UpScrolled dan Bagaimana Cara Kerjanya?

UpScrolled memungkinkan pengguna mengunggah tiga jenis konten, yaitu foto, video pendek, dan unggahan teks, sehingga terasa seperti perpaduan antara X (Twitter) dan Instagram. Tampilan antarmukanya mirip dengan X, di mana pengguna dapat menyukai unggahan, menuliskan komentar, atau membagikannya kembali.

Hingga saat ini, para pengguna tampak lebih banyak memanfaatkan aplikasi ini untuk berbagi teks dan foto, bukan video pendek seperti yang populer di TikTok.

UpScrolled juga memiliki fitur “Discover Page” yang menyerupai milik Snapchat. Topik yang paling mendominasi halaman ini adalah Palestina. Ratusan unggahan yang menampilkan penderitaan berkelanjutan di Jalur Gaza maupun bentuk solidaritas terhadap rakyat Palestina membanjiri aplikasi tersebut.

Sejumlah tokoh ternama turut bergabung dengan gelombang pengguna baru UpScrolled, salah satunya Chris Smalls, aktivis buruh asal Amerika Serikat dan mantan penggagas serikat pekerja Amazon. Ia dikenal pernah bergabung dengan Gaza Freedom Flotilla pada Juli 2025 bersama aktivis lain dalam upaya menembus blokade Jalur Gaza.

Jacob Berger, aktor Yahudi-Amerika yang dikenal lewat perannya dalam serial kriminal populer Amerika Brooklyn Nine-Nine dan juga turut serta dalam Freedom Flotilla, kini juga aktif menggunakan aplikasi tersebut.

Beberapa pengguna aplikasi tersebut awal pekan ini mengeluhkan bahwa unggahan video mengalami gangguan. UpScrolled, dalam pembaruan aplikasi pada Kamis, 29 Januari 2026, mengatakan bahwa itu adalah akibat dari peningkatan jumlah unduhan pengguna, dan menambahkan bug tersebut telah diperbaiki.

BACA JUGA: Link Nonton Jujutsu Kaisen S3 Sub Indo, Bukan di Samehadaku

Siapa Pengembang UpScrolled?

Issam Hijazi. (X/@iHijazi)

UpScrolled didirikan pada Juli 2025 oleh Issam Hijazi, seorang pengembang berdarah Palestina-Yordania-Australia yang sebelumnya berkarier di perusahaan teknologi besar seperti Oracle dan IBM. Aplikasi ini didukung oleh Tech for Palestine, sebuah inisiatif advokasi yang memberikan pendanaan bagi proyek teknologi pro-Palestina.

Dalam wawancaranya dengan situs berita teknologi Rest of World, Hijazi menjelaskan keputusannya meninggalkan dunia Big Tech dan membangun platform alternatif dipicu oleh kehancuran Gaza oleh Israel, yang oleh Komisi Penyelidikan Perserikatan Bangsa-Bangsa dinyatakan sebagai genosida.

Ia juga menyoroti tingginya tingkat penyensoran konten di aplikasi-aplikasi populer sebagai faktor utama pendorong langkah tersebut.

“Saya sudah tidak tahan lagi. Saya kehilangan anggota keluarga di Gaza, dan saya tidak ingin terlibat. Jadi saya berpikir, saya sudah selesai dengan ini, saya ingin merasa berguna,” kata Hijazi.

“Saya menemukan celah di pasar ini, dengan banyak orang bertanya mengapa tidak ada alternatif selain platform Big Tech untuk konten mereka, yang terus disensor. Jadi saya berpikir, mengapa kita tidak membangun sendiri? Saya langsung terjun dan membangunnya,” tambahnya.

Dalam sebuah laporan tahun lalu, Pelapor Khusus PBB Francesca Albanese menuding IBM dan sejumlah perusahaan teknologi besar lainnya terlibat dalam apa yang ia sebut sebagai genosida Israel. Sementara, berbagai aplikasi media sosial seperti Instagram, X, dan TikTok juga menghadapi tuduhan melakukan pembatasan tersembunyi (shadow ban) terhadap pengguna yang mengunggah konten pro-Palestina.

UpScrolled mengklaim hanya memoderasi konten ilegal, seperti penjualan narkoba, tetapi tidak yang lain. Hijazi mengatakan algoritma aplikasi tersebut tidak dirancang untuk membuat orang terus menggulir layar, tidak seperti TikTok dan aplikasi lainnya.

“Bukan karena kami tidak tahu caranya, merancang algoritma seperti itu sebenarnya sangat mudah. Namun saya memilih untuk tidak melakukannya karena saya paham dampak mental yang bisa ditimbulkan, terutama bagi generasi muda,” ujar Hijazi.

UpScrolled menegaskan bahwa linimasa (feed) mereka sepenuhnya disusun secara kronologis, sebuah fitur yang sudah lama dihapus oleh banyak aplikasi populer meskipun sering dikeluhkan pengguna.

Sementara itu, unggahan di halaman Discover saat ini diurutkan berdasarkan tingkat interaksi. Meski begitu, tim pengembang tengah bereksperimen menggunakan kecerdasan buatan (AI) untuk menata ulang tampilan konten sesuai dengan perilaku pengguna.

Di situs webnya, UpScrolled menyatakan ingin memberi pengguna tempat untuk mengekspresikan pikiran secara bebas, berbagi momen, dan terhubung dengan orang lain. Aplikasi ini milik orang-orang yang menggunakannya dan bukan milik algoritma tersembunyi atau agenda pihak luar.

Pada Selasa, 27 Januari 2026, perkiraan dari perusahaan intelijen pemasaran Sensor Tower mencatat bahwa UpScrolled telah diunduh sekitar 400.000 kali di Amerika Serikat dan 700.000 kali secara global sejak diluncurkan pada Juni 2025.

Aplikasi ini mengalami lonjakan unduhan di AS mulai tanggal 22 Januari 2026, hari yang sama ketika TikTok menandatangani kesepakatan untuk membuat versi aplikasi AS yang dikendalikan oleh Amerika. Sensor Tower memperkirakan bahwa, hingga hari Selasa, 85% unduhan UpScrolled di AS terjadi antara tanggal 21 dan 27 Januari.

Pada hari Rabu, UpScrolled menduduki peringkat pertama dalam kategori jejaring sosial di App Store Apple AS, mengalahkan Threads milik Meta, WhatsApp, dan TikTok. Aplikasi ini berada di peringkat keenam sebagai aplikasi sosial gratis di Google Play untuk pengguna Android, di mana TikTok (dan TikTok Lite) mendominasi.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Distika Safara Setianda pada 30 Jan 2026 

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 30 Jan 2026