Dampak Sanksi: Ekonomi Iran Kian Tertekan

Redaksi Daerah - Rabu, 14 Januari 2026 13:07 WIB
Begini Kondisi Ekonomi Iran yang Kini Hancur Karena Sanksi

JAKARTA - Perekonomian Iran saat ini berada pada titik terlemah dalam kurun sepuluh tahun terakhir. Sejumlah pemberitaan media internasional pada penghujung 2025 hingga awal 2026 menyoroti kondisi ekonomi negara tersebut yang terus memburuk, dipicu oleh sanksi global yang berkepanjangan, pelemahan nilai tukar mata uang, inflasi yang melonjak tajam, serta laju pertumbuhan ekonomi yang tersendat.

Tekanan yang dihadapi tidak sekadar bersifat sementara, melainkan menunjukkan adanya masalah struktural yang mendalam. Krisis ini perlahan mengikis kemampuan beli masyarakat dan berpotensi mengganggu kestabilan sosial dalam skala yang lebih luas.

Tekanan ekonomi Iran terlihat jelas dari laju inflasi yang terus melonjak. Dikutip data Dana Moneter Internasional (IMF), Senin, 12 Januari 2025, tercatat inflasi Iran pada 2025 rata-rata mencapai 42%, naik signifikan dibandingkan 33% pada tahun sebelumnya.

Kenaikan harga paling tajam terjadi pada sektor pangan, dengan inflasi bahan makanan menembus 72% secara tahunan pada Desember 2025. Kondisi ini membuat kebutuhan dasar semakin sulit dijangkau oleh masyarakat kelas menengah dan bawah.

Krisis juga tercermin dari anjloknya nilai tukar mata uang Rial. Pada Desember 2025, nilai tukar Rial menyentuh level sekitar 1,42 juta per dolar AS, terdepresiasi lebih dari 50% hanya dalam waktu enam bulan.

Sepanjang 2025, pelemahan Rial tercatat mendekati 45 persen, memicu lonjakan harga barang impor dan memperparah tekanan inflasi domestik.

Harga kebutuhan pokok melonjak drastis. Laporan media menyebutkan harga susu naik hingga enam kali lipat dalam setahun, sementara sejumlah barang kebutuhan lainnya mengalami kenaikan lebih dari sepuluh kali lipat.

Di tengah tekanan tersebut, pertumbuhan ekonomi Iran nyaris stagnan, hanya sekitar 1 persen rata-rata dalam dua dekade terakhir, jauh dari cukup untuk menyerap tenaga kerja baru dan memperbaiki kesejahteraan rakyat.

Di sisi fiskal, tekanan semakin berat karena harga minyak global yang relatif rendah. Sepanjang 2025, harga minyak Brent berada di kisaran US$60 per barel, sementara Iran membutuhkan harga sekitar US$165 per barel untuk menyeimbangkan anggaran negara. Ketimpangan ini membuat ruang fiskal pemerintah semakin sempit.

Sanksi Amerika Serikat & Dampaknya

Sanksi Amerika Serikat dan sekutunya menjadi faktor kunci yang memperdalam krisis ekonomi Iran. Embargo minyak secara langsung membatasi ekspor minyak mentah yang selama ini menjadi sumber utama devisa negara.

Untuk tetap bertahan, Iran terpaksa menjual minyak ke China dengan diskon besar melalui jalur tidak resmi, yang menggerus penerimaan negara secara signifikan.

Di sektor keuangan, pembatasan akses ke sistem pembayaran global membuat Iran terisolasi dari arus modal internasional. Investasi asing nyaris berhenti, sementara transfer teknologi dari luar negeri terhambat total. Kondisi ini memukul sektor industri dan memperlambat modernisasi ekonomi.

Tekanan semakin berat setelah sanksi internasional yang sempat dilonggarkan pasca-kesepakatan nuklir 2015 kembali diberlakukan penuh pada September 2025. Kombinasi embargo energi, isolasi keuangan, dan ketidakpastian politik membuat kepercayaan terhadap ekonomi Iran terus merosot, baik di dalam maupun luar negeri.

Krisis ekonomi Iran bersifat struktural dan multidimensi. Sanksi Amerika Serikat dan internasional membatasi aliran devisa, menghambat impor kebutuhan pokok, serta menekan nilai tukar mata uang secara terus-menerus.

Di saat yang sama, kebijakan domestik seperti sistem kurs berlapis, lemahnya tata kelola, dan dugaan korupsi memperburuk ketidakstabilan ekonomi.

Faktor eksternal turut memperparah situasi, termasuk harga minyak global yang rendah serta tekanan lingkungan seperti kekeringan yang meningkatkan ketergantungan Iran pada impor pangan.

Dampak sosial dari krisis ini terlihat jelas dalam bentuk gelombang protes masyarakat yang awalnya dipicu lonjakan harga kebutuhan pokok, namun kemudian berkembang menjadi tuntutan politik yang lebih luas.

Secara keseluruhan, ekonomi Iran kini berada dalam tekanan sangat berat. Inflasi tinggi, mata uang yang terus merosot, dan daya beli masyarakat yang tergerus menciptakan krisis kepercayaan yang mendalam.

Sanksi Amerika Serikat menjadi pemicu utama kehancuran ekonomi, sementara persoalan internal membuat jalan keluar dari krisis ini semakin kompleks dan berlarut-larut.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 13 Jan 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 14 Jan 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS