Pilih Saham atau Reksadana? Ini Perbedaannya

Redaksi Daerah - Jumat, 02 Januari 2026 12:30 WIB
BEI buka kembali kode broker dan domisili investor. Apa dampaknya untuk kamu yang baru terjun ke dunia saham? Simak manfaat, risiko, dan strategi amannya di sini.

JAKARTA - Pertanyaan yang kerap muncul di kalangan investor, terutama seiring bertambahnya investor ritel di Indonesia, adalah mana yang lebih menguntungkan antara saham dan reksadana. Kenyataannya, jawaban atas pertanyaan ini tidak bisa disederhanakan. Para perencana keuangan menilai tidak ada satu instrumen investasi yang paling tepat untuk semua orang.

Pemilihan antara saham dan reksadana sangat ditentukan oleh profil risiko, sasaran keuangan, serta ketersediaan waktu yang dimiliki setiap investor.

Saham memberikan peluang imbal hasil yang lebih besar, namun diiringi oleh volatilitas harga yang tinggi serta kebutuhan analisis secara mandiri. Sementara itu, reksadana dianggap lebih praktis karena dikelola oleh manajer investasi, meskipun potensi keuntungannya relatif lebih stabil dan cenderung tidak setinggi saham.

BACA JUGA: Cara Aman Investasi untuk Pelajar, Uang Saku Jadi Aset!

Memahami perbedaan mendasar keduanya menjadi langkah awal agar investor tidak sekadar ikut tren atau FOMO, tetapi berinvestasi secara sadar dan terukur.

Karakter Dasar Saham dan Reksadana

Saham merupakan bukti kepemilikan atas suatu perusahaan. Investor yang membeli saham berarti ikut memiliki perusahaan tersebut dan berhak atas potensi keuntungan, baik dari kenaikan harga saham (capital gain) maupun dividen.

Namun, risiko kerugiannya juga tinggi karena harga saham bisa berfluktuasi tajam mengikuti kondisi pasar dan kinerja perusahaan.

Sementara itu, reksadana adalah wadah investasi kolektif yang menghimpun dana dari masyarakat untuk kemudian dikelola oleh Manajer Investasi (MI).

Dana tersebut ditempatkan ke berbagai instrumen seperti saham, obligasi, atau pasar uang sesuai jenis reksadananya. Diversifikasi ini membuat risiko relatif lebih terkelola.

Baca juga : Beyoncé Resmi Jadi Miliarder Versi Forbes

Risiko dan Potensi Imbal Hasil

Dari sisi risiko, saham dikenal sebagai instrumen high risk–high return. Dalam kondisi pasar yang positif, keuntungan saham bisa melampaui 20 persen per tahun, namun dalam situasi buruk, nilainya juga bisa turun signifikan.

Reksadana menawarkan profil risiko yang lebih beragam. Reksadana saham memiliki potensi imbal hasil sekitar 15–20 persen per tahun, sementara reksadana pendapatan tetap berkisar 6-8 persen per tahun. Meski potensi keuntungannya lebih rendah dibanding saham individual, risikonya dinilai lebih stabil karena dana tersebar di banyak aset.

Modal dan Kemudahan Akses

Dari sisi modal awal, saham di Bursa Efek Indonesia dapat dibeli mulai dari 1 lot (100 lembar). Dengan harga saham Rp1.000 per lembar, investor membutuhkan modal minimal Rp100.000, belum termasuk biaya transaksi.

Adapun reksadana dikenal sangat ramah pemula. Banyak produk reksadana dapat dibeli mulai dari Rp10.000 hingga Rp100.000, dengan akses yang mudah melalui aplikasi bank, dompet digital, maupun platform investasi online.

Waktu dan Keterlibatan Investor

Berinvestasi saham menuntut keterlibatan aktif. Investor perlu mempelajari analisis fundamental dan teknikal, memantau pergerakan pasar, serta mengambil keputusan beli atau jual secara mandiri.

Sebaliknya, reksadana bersifat lebih pasif. Investor cukup memilih produk yang sesuai, sementara pengelolaan portofolio dilakukan oleh Manajer Investasi. Hal ini membuat reksadana cocok bagi mereka yang memiliki keterbatasan waktu atau belum memiliki pengetahuan mendalam tentang pasar modal.

Baca juga : Fakta Ekspansi CUAN 2025: Dari Listrik hingga Tambang SINI

Pilih Sesuai Profil Risiko

Bagi investor dengan profil risiko tinggi, tujuan jangka panjang, dan waktu untuk belajar serta memantau pasar, saham kerap menjadi pilihan utama karena memberikan kontrol penuh dan potensi pertumbuhan lebih agresif.

Sementara itu, reksadana lebih sesuai bagi investor pemula, pemilik modal terbatas, atau mereka yang menginginkan investasi yang praktis dengan risiko lebih terkendali.

Sejumlah perencana keuangan menyarankan strategi mengombinasikan saham dan reksadana dalam satu portofolio. Reksadana dapat berfungsi sebagai fondasi stabil, sementara saham menjadi pendorong pertumbuhan nilai investasi.

Dengan pendekatan ini, investor dapat menyeimbangkan risiko dan imbal hasil sesuai tujuan keuangannya.

Pada akhirnya, pilihan antara saham dan reksadana bersifat sangat personal. Instrumen terbaik bukan yang menawarkan keuntungan tertinggi, melainkan yang paling sesuai dengan tujuan, toleransi risiko, dan gaya hidup investor.

Tanpa pemahaman tersebut, investasi berisiko berubah menjadi spekulasi. Sebaliknya, dengan strategi yang tepat, baik saham maupun reksadana sama-sama dapat menjadi alat untuk membangun kekayaan jangka panjang.

Tulisan ini telah tayang di www.trenasia.id oleh Muhammad Imam Hatami pada 01 Jan 2026

Tulisan ini telah tayang di balinesia.id oleh Redaksi pada 02 Jan 2026

Editor: Redaksi Daerah

RELATED NEWS